Menurut Dewa Eka Prayoga, di era digital seperti sekarang ini konten adalah jembatan antara perusahaan dengan konsumen di mana konten tersebut dibuat semenarik mungkin agar konsumen tertarik atas apa yang perusahaan pasarkan. Sementara itu, format konten akan berperan sebagai jembatan antara perusahaan dan konsumen berupa teks, foto dan video.
Namun, sebuah konten tidak hanya dibagikan kemudian dilupakan begitu saja, namun konten harus memiliki daya tarik tersendiri agar para calon konsumen tertarik dengan konten yang sudah kita buat. Sekarang ini, untuk membuat konten yang bisa dijangkau oleh konsumen perlu adanya strategi “viral” untuk konten. Di mana arti dari viral itu sendiri adalah strategi pemasaran yang mendorong individu untuk menyampaikan sebuah pesan pemasaran kepada individu lainnya. Sehingga akan menciptakan sebuah potensi pertumbuhan eksponensial dalam paparan dan pengaruh pesan pemasaran tersebut.
Viralnya sebuah konten bukan dikarenakan dari sebuah kebetulan yang diakibatkan oleh tepatnya jam posting atau pun isu yang sedang trending, tetapi menurut Dewa Eka Prayoga viralitas itu dapat diciptakan. Menurutnya, viralitas mengandung enam pola yang disingkat STEPPS, yaitu Social Currency (S), Trigger (T), Emotion (E), Public (P), dan Practical Value (P). Berikut penjelasannya:
- Social Currency (S) yaitu pola viral yang diibaratkan jika seseorang melihat atau membaca konten Anda, maka orang tersebut merasa bernilai atau bermanfaat setelah melihat dan membaca konten tersebut.
- Trigger (T) yaitu pola viral yang mana konten harus dibuat agar mudah diingat atau menjadi konten yang memicu para calon konsumen untuk mengingatnya.
- Emotion (E) yaitu pola viral yang di mana konten Anda dapat menguras emosi para calon konsumen, pola viral emotion ini tidak hanya bersifat positif namun juga negatif karena pola viral ini memainkan emosi calon konsumen. Sebagai contoh konten marketing mengutip sebuah perkataan seseorang dan dari kutipan tersebut dapat menyentuh para calon konsumen.
- Public (P) yaitu pola viral yang mengikuti tren sosial media yang sedang ramai, namun konten viral yang menggunakan pola public biasanya tidak akan bertahan lama karena mengikuti algoritma tren yang diikuti.
- Practical Value (P) yaitu pola viral yang di mana isi konten tersebut dapat di praktekan oleh para calon konsumen yang melihat atau membaca konten lalu akhirnya dishare oleh calon konsumen karena konten tersebut dirasa bermanfaat karena bisa di praktekan.
- Story (S) yaitu pola viral yang di mana isi konten tersebut berisikan cerita dari pembuat konten.Di dalam konten yang menggunakan pola viral story dapat juga mengaitkan pola viral lainnya dan dijadikan satu dalam pola viral story, contohnya yaitu pembuat konten membuat konten viral yang berisikan cerita tentang dirinya,dimana cerita tersebut dapat membuat pembaca emosi lalu akhirnya dipraktekan dari cerita tersebut oleh pembaca.
Keenam pola tersebut dapat Anda lakukan untuk menciptakan konten viral sehingga dapat menjangkau audiens yang lebih luas lagi. Kira-kira, siapa di sini yang sudah pernah menciptakan viralitas dengan pola di atas?